MENURUNNYA PERMINTAAN MASYARAKAT PENGGUNA OJEK ONLINE (OJOL) MEMANGKAS PENDAPATAN DRIVER
Keberadaan
Ojek Online sudah menjadi hal yang general ditelinga masyarakat sejak Tahun
2015 yang mana dapat dibuktikan maraknya penggunaan Ojol sebagai sarana
transportasi modern yang digunakan oleh masyarakat dalam beraktifitas atupun
berbelanja. Hadirnya Ojol memberikan kemudahan bagi tukang ojek dan penumpang
saling berinteraksi dengan cepat dan nyaman via smartphone. Hadirnya Ojol di
pasar Indonesia menjadikan sistem bisnis transportasi berbasis digital yang
pada akhirnya diterima oleh masyarakat secara luas dan menjamur di Indonesia. Pada
dasarnya eksistensi ojek online ini sudah dimulai sejak 2011 dengan hadirnya ojek online yang bernama Gojek
yang pertama kali mucul mewarnai ekosistem transportasi di Indonesia yang
diinisiasi oleh Nadiem Makarim, tetapi ternyata masih jauh dari ekpektasi
target. Walaupun demikian seiring berjalannya waktu Gojek menjadi transportasi
online yang digandrungi berbagai kalangan masyarakat mulai dari anak-anak,
kalangan muda, dan para orang tua yang membuat demand masyarakat menjadi berorientasi pada trend positif. Terbukti menurut data
Bulan Februari 2016 total masyarakat yang melakukan unduhan aplikasi pengguna Gojek mencapai 81.834 kali
unduhan. Sedangkan pada bulan Maret 2016 tembus menjadi 131.795 kali. Adanya
peluang itu munculah berbagai kompetitor yang siap bersaing dalam sektor yang
sama, seperti Grab, Maxim, Okejek, Nujek, Shejak, M-ojek dan lain sebagainya.
Sedangkan menurut Data Nasional menyatakan masyarakat yang menggunakan dan
mengunduh aplikasi ojek online sekitar 21,7 Juta orang 2020.
Namun
kita harus ketahui bahwa keberadaan sebuah bisnis tentu pasti ada fase decline
yang tentunya tidak mungkin terus pasang dan pasti adanya
probabilitas fluktuasi eksistensi kineja usaha. Salah satunya adalah bisnis
ojek online yang dimana pada 5 tahun terakhir Ojol memiliki opportunities yang
sangat menjanjikan, tetapi lambat laun kinerja dari perusahaan Ojol ini terus
mengalami penurunan. Hal itu terjadi karena masyarakat memilih residu
penggunaan layanan transportasi online yang banyak transisi ke angkutan lain
setelah adanya kenaikan tari Ojol pada September 2022. Adanya tarif ini memang
mengurangi penggunaan dan beralih menggunakan transportasi lain ditambah lagi
penyesuaian tarif Ojol bersamaan dengan kenaikan BBM yang tentu cukup dirasakan
dari berbagai elemen masyarakat. Kenaikan tarif biaya jasa ojek online 2022 yaitu Zona 1
(Sumatera dan Jawa) dari batas bawah Rp 1.850 naik ke Rp 2.000 atau 8% per Km
dan biaya jasa minimal menjadi Rp 8.000-Rp 10.000. Untuk Zona II (Jakarta,
Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) biaya batas bawah dari Rp 2.250 naik menjadi Rp 2.550 dan untuk biaya batas
atas dari Rp 2.650 naik menjadi Rp 2.800 per Km. Sedangkan Zona III
(Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, dan Papua) untuk biaya batas bawah dari Rp
2.100 naik menjadi Rp 2.300 dan biaya batas atas dari Rp 2.600 naik menjadi Rp
2.700 atau 5,7 % per Km dan biaya jasa minimal Rp 9.200- Rp 11.00. Adapun hasil
survey Badan Kebijakan Transportasi 2022 menyatakan bahwa reaksi terhadap biaya
jasa terbaru sekitar 46,76 Persen responden. Sedangkan mayoritas 50,24 Persen
responden memilih opsi untuk remisi frekuensi penggunaan jasa Ojol. Ada lagi
menurut hasil survey Jajal Pendapat menyatakan mayoritas responden mendominasi
untuk memilih mengurangi penggunaan ojek online
karena tarifnya up. Kemudian sebanyak 44 % dan 34 % responden beralih
menggunakan kendaraan pribadi dan transportasi publik. Sementara 27 % responden
bertransformasi ke platform ojek online lainnya yang harga ekonomis dan
inexpensive. Adapula 23 % responden memilih berjalan kaki, 12% responden masih menggunakan layanan ojek
online seperti biasa, dan 2 % beralih tidak menggunakan layanan jasa
tranportasi lain.
Hasil survey pun mencatat bahwa sebelum adanya kenaikan tarif Ojol tingkat pesanan 46,88%. Sementara setelah pemberlakuan tarif baru pesanan menjadi minus menjadi 55,65%. Penyebab turunnya pengguna Ojol bukan saja dari segi tarif yang naik, tetapi dari promo untuk peenumpang yang kurang menarik, banyaknya pengemudi ojek online di berbagai distrik, dan banyaknya penyedia layanan ojek online yang bermunculan yang membuat kinerja perusahaan menjadi down dan kemudian berimbas pada driver yang tentunya akan terkena stigma dari konstelasi trend penurunan pengguna layanan Ojol, seperti menurunnya pendapatan, jarang mendapatkan bonus/reward, pengeluaran pengemudi lebih besar dari pada income, dan jarang mendapatkan pesanan penumpang. Dari pernyataan tersebut, penulis dapat mengambil konklusi bahwa usaha Ojol sedang mengalami keterpurukan akibat adanya kebijakan kenaikan tarif yang dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan yang mengakibatkan penurunan ekonomi bagi para driver. Untuk itu, perlu solusi yang apik untuk menghandle permasalahan tersebut dengan cara menstabilkan tarif penumpang, memasang promo dan diskon yang menarik bagi pengguna, driver mendapatkan reward yang pantas, pemerintah turut menetapkan kebijakan dalam kesejahteraan driver, konsumen , dan perusahaan, serta memberikan stimulus subsidi dana untuk supporting operasional perusahan.
Penulis: Hendri Budi Santoso


Komentar
Posting Komentar