PROBLEMATIKA MANAJERIAL SPPG DAPUR YAYASAN MUTIARA BINTANG SINERGI KAB. BLITAR YANG BERIMPLIKASI PADA KETIDAKEFEKTIFAN OPERASIONAL AWAL LOUNCHING DAN DISTRIBUSI MAKANAN BERGIZI GRATIS 2025
PROBLEMATIKA MANAJERIAL SPPG DAPUR YAYASAN MUTIARA BINTANG SINERGI KAB. BLITAR YANG BERIMPLIKASI PADA KETIDAKEFEKTIFAN OPERASIONAL AWAL LOUNCHING DAN DISTRIBUSI MAKANAN BERGIZI GRATIS 2025
Program makan bergizi gratis (MBG)
adalah program strategis nasional yang dicanangkan oleh presiden RI ke 8 yang
bertujuan untuk meningkatkan SDM para generasi
muda dengan memperbaiki gizi anak dan
ibu hamil dengan harapan generasi bangsa bisa lebih cerdas, produktif dan
sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi domestik melalui kontribusi pelaku
UMKM dan peningkatan lapangan kerja. Program ini terbilang bagus, sebab ini
bagian respon langsung terhadap berbagai tantangan nutrisi bagi anak-anak dan
remaja yang kekurangan gizi. Berdasarkan data survey Status Gizi Indonesia (SSGI) yang mencatat adanya
penurunan stunting nasional dari 21,5% pada 2023 menjadi 19,8 % pada 2024.
Meski ada penurunan pemerintah berkomitmen untuk menurunkan angka stanting
nasional menjadi 14,2 % pada tahun 2029 sesuai target rencana pembangunan
jangka menengah nasional (RPJMN). Selain itu pemerintah juga berinisiatif untuk
menurunkan stunting 18,8% pada 2025 yang tentunya membutuhkan kerja keras dan
kolaborasi erat untuk mencapai target tersebut. Untuk itu, pemerintah melalui
program Makan Bergizi Gratis 2025 akan terus digencarkan dan diakselerasi agar
mampu menurunkan stunting anak-anak Indonesia meski masih banyak permasalahan
dalam mengimplementasikan program MBG.
Salah satunya
adanya studi kasus dari SPPG Dapur Yayasan Mutiara Bintang Sinergi yang
berpusat di Kec. Wlingi Kab.blitar, Jawa Timur. Penulis melihat Yayasan ini
masih terdapat beberapa kendala dalam
pengelolaan operasionalnya. Terbukti sejak Januari 2025 hingga September 2025
SPPG Dapur yayasan ini belum bisa berjalan sama sekali ditengah-tengah beberapa
SPPG di Blitar Raya sudah banyak yang berjalan
dengan lancar. Yayasan ini masih belum
bisa louching dan distribusi makanan ke sekolah dikarenakan adanya beberapa
hal, yakni ketidakcakapan manajerial internal, terbatasnya permodalan, Tidak
Solidnya pengurus dengan Koordinator dapur,
dan perubahan juklak juknis dari pemerintah. Permasalahan manajemen di Yayasan Mutiara Bintang Sinergi menjadi
kendala vital sebab yayasan tanpa adanya pengelolaan yang baik tentu membuat
kegagalan dalam operasional. Masalah spesifik dari yayasan ini terkait dengan
manajemen internalnya dimana hampir semua sub bagian manajerialnya tidak berfungsi
dengan baik dan tidak terstruktur. Terbukti tidak ada rancangan divisi Human
Resource yang mencari dan melakukan
penyeleksian karyawan, tidak adanya divisi
keuangan yang mencatat masuk keluarnya biaya secara transparan, tidak
adanya bagian administrasi yang mengurusi dokumen, dan tidak adanya divisi
humas yang fokus dalam hubungan public relation, dan tidak ada divisi legal
yang mengurusi perjanjian kerjasama dengan supplier ataupun investor.
Selain itu
Yayasan ini juga terkendala perihal pendanaan yang membuat kinerja konstruksi
renovasi dapur lambat ditambah lagi Cuma mengerahkan 2 tenaga kerja, adanya kendala
dalam pembelian peralatan dapur, transportasi juga belum memenuhi standar,
biaya pembelian pakaian karyawan juga terhambat dan agenda lounching distribusi
selalu diundur. Terlebih lagi terdapat pengurus dan anggota tidak kompak sebab
selalu adannya konflik dengan koordinator dapur dan kurangnya koordinasi
komunikasi dengan pihak internal. Ketua yayasan disini sifatnya egois dan juga
ingin mengatur dan mengatasi sendiri manajemennya tanpa melibatkan pihak lain
secara agregat yang membuat adanya interaksi komunikasi yang buruk antar pihak
dan menciptakan lingkungan kerja yang tidak harmonis. Secara gaya kepemimpinan
ketua yayasan tersebut agak otoriter, egois, dan berambisi terbukti ketua
yayasan melakukan renovasi 4 titik dapur sekaligus padahal tidak mempunyai dana
yang memadai. Seharusnya dapur cukup direnovasi satu terlebih dahulu biar cepat
berjalan, tapi ini sebaliknya karena ketua yayasan terlalu berambisi yang membuat
sampai saat ini SPPG Yayasan Mutiara Bintang Sinergi belum ada progres
pergerakan apapun. Bahkan ketua yayasan ini sering ditipu terkait negosiasi
dengan investor yang berakhir dengan
kegagalan sebab ketua yayasannya terlalu percaya dengan orang lain dan tidak punya strategi
khusus untuk menghadapi permasalahan dalam negosiasi. Ini menjadi salah satu
kekurangan gaya kepemimpinan dari ketua Yayasan Mutiara Bintang Sinergi.
Terhambatnya
aktivitas louching dan distribusi yayasan ini juga terjadi karena tidak
konsistennya ketua yayasan dalam menyampaikan informasi dimana yang awalnya A
diakhir menjadi B yang mana patner bisnisnya diberi ruang untuk menyuplai 5
jenis produk tiba-tiba berubah menjadi satu jenis produk. Selain itu kurang
transparansi aliran dana masuk ke yayasan sebab patner yang mencarikan
pendanaan tidak diberitahu bahwa dana itu telah ditransfer. Terakhir masalah
perubahan kebijakan dari pemerintah terkait petunjuk pelaksanaan (juklak) dan
Petunjuk teknis (juknis) hal ini dilakukan pemerintah karena pelaksanaan
program Makan Bergizi Gratis melalui yayasan banyak yang tidak sesuai regulasi.
Contoh masalah di lapangan dalam pendistribusian makanan di sekolah mulai dari
keterlambatan pengiriman, pengurangan kuantitas dan kualitas porsi, adanya minuman kadaluarsa, makanan
basi, dan jenis makanan yang bikin anak-anak sakit perut atau alergi. Itu
alasan pemerintah melakukan banyak revisi regulasi agar bisa disempurnakan
dengan baik yang membuat operasional dapur bisa lebih efektif dan efisien. Adanya beberapa polemik tersebut, penulis
menghimbau pemerintah perlu mematangkan regulasi dan kebijakan Program Makan
Bergizi Gratis agar bisa lebih matang dalam pelaksanaan di lapangan dan perlu
adanya audit lapangan untuk memastikan tidak adanya penyelewengan dari setiap
yayasan. Disisi lain yayasan juga harus melakukan perbaikan manajemen internal
secara menyeluruh dan membangun ruang komunikasi dengan berbagaai pihak sesuai
standar dari pemerintah. Sehingga ketika program ini berjalan dengan baik tentu
akan berdampak positif terhadap perbaikan gizi anak pelajar dan ibu hamil, mampu
mempercepat perputaran roda ekonomi domestik bagi pelaku UMKM dan masyarakat,
serta meningkatkan penyerapan tenaga
kerja yang membuat tingkat pengangguran menjadi menurun.


Komentar
Posting Komentar