MENGONTROL STOCK PERSEDIAAN BARANG YANG EFEKTIF DAN EFISIEN PADA USAHA MIKRO DAN KECIL
Saat ini Indonesia terdapat
banyak usaha yang menjadi tumpuan dalam menggerakan ekonomi masyarakat dari
yang berskala mikro maupun kecil untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sehingga sektor ini dianggap
esensial keberadaannya dalam kegiatan perekonomian. Ditambah lagi dukungan
pemerintah untuk meningkatkan sektor UKM melalui generasi muda yang pada
akhirnya memunculkan banyak Startup-Startup dari berbagai sektor untuk
mendukung perkembangan dan progesifitas kinerja perekonomian negara. Namun pada
kenyataannya dalam operasional usaha
khususnya usaha dalam skala kecil dan mikro ini masih bannyak memiliki
persoalan di berbagai sub bidang mulai dari bidang produksi, pemasaran,
keuangan dan personalia. Namun umumnya permasalahan yang sering dihadapi oleh
kedua usaha yang berskala mikro dan kecil yaitu permasalahan dalam pengontrolan
persedian barang dagangan, bahan baku, setengah jadi, dan barang jadi yang
biasanya perlu gudang dijadikan sebagai operasional untuk save persediaan
barang niaga. Apalagi operasional gudang adalah aspek terpenting yang
seharusnya menjadi fokus pelaku usaha untuk manajerial sistem manajemen stock
barang yang baik. Ketika menajemen stock barang yang dilakukan oleh pelaku
usaha tidak optimal maka akan muncul berbagai masalah mulai dari turunnya
kualitas layanan kepada pelanggan sebagai aset terpenting bagi perusahaan, jika
itu sampai terjadi akan berimbas pada penurunan profit usaha kecil ataupun
mikro.
Munculnya problem
tersebut dikarenakan terdapat persoalan dalam hal pengelolaan stok barang.
Biasanya permasalahan yang sering muncul ketika melakukan persedian barang
dalam usaha kecil dan mikro, yakni adanya akurasi stock barang yang rendah
akibat adanya jumlah barang yang tercatat tidak sesuai dengan jumlah barang
rill di Warehouse, Tata letak gudang yang inefisien akibat ketidaksesuaian tata
letak gudang dengan jenis industri atau barang yang kerap menghambat lalu
lintas keluar masuknya barang, adanya permasalahan dalam penetapan lokasi
barang mulai dari meletakan dan menyususn barang di gudang yang mengindikasikan
posisi barang yang ditata akan rancu yang berdampak pada lambatnnya proses pecarian
barang, adanya over fluktuasi permintaan barang yang tentu membuat stock barang
bisa saja berlebih dan berpotensi tidak terjual ataupun kekurangan stock yang
mengakibatkan tidak mampu menyediakan kebutuhan masyarakat, terakhir rendahnya kontrol
kualitas stock barang di Gudang.
Dari sini kita bisa
melihat bahwa pengelolaan persedian barang di Gudang perlu dikelola dengan baik
karena juga akan berkorelasi dengan keseimbangan dari biaya operasional yang
dimiliki oleh perusahaan. Meskipun pengimplementasian manajerial persediaan
barang sangat sukar dilakukan oleh pelaku usaha, tetapi ini mandatory untuk
dilakukan pengelolaan fisik barang secara efektif dan efisien bersamaan dengan
pencatatan barang yang tepat. Pada dasarnya pengelolaan gudang sudah banyak
diterapkan di berbagai sektor usaha baik dari usaha ritel, grosir, perakitan
hinggga manufaktur. Namun ternyata masih banyak kesulitan dalam merealisasikan.
Untuk itu perlu beberapa solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut agar
pelaku usaha mikro kecil mampu menyediakan dan mengelolaa persediaan barang
gudang dengan baik. Untuk itu penulis menawarkan beberapa cara yang bisa
dilakukan oleh pelaku usaha dalam mengantisipasi persoalan tersebut, yaitu memastikan
melakukan pencatatan barang secara berkala sesuai dengan barang fisik, melakukan
penetapan lokasi dan tata letak barang dengan tepat, menggunakan metode Fifo
Lifo, melakukan proteksi inventory secara berkala, memberlakukan standar minimum
persediaan barang di Gudang, menetapkan pegawai gudang yang memiliki keahlian
dalam pergudangan, melakukan pelatihan dan pendampingan bagi karyawan ataupun
owner tentang ilmu gudang, melakukan survey minat dan permintaan pasar,
melakukan audit barang secara berkesinambungan, memberikan kode untuk stock
barang, dan menggunakan sistem komputerisasi yang modern. Dengan demikian, tanpa
implementasi yang manajemen gudang yang tepat dan akurat maka akan timbul
resiko kerugian bagi pelaku usaha sebab secara otomatisasi akan mempengaruhi
pemenuhan kebutuhan konsumen.
Penulis:
Hendri Budi Santoso


Komentar
Posting Komentar