CUACA
ESKTREM MENJADI PENGHAMBAT AKTIVITAS PELAKU USAHA DI INDONESIA
Pada belakangan ini terjadi fenomena perubahan
cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia yang memicu
terhambatnya aktivitas masyarakat. Banyak berbagai dampak yang terjadi akibat
cuaca ekstrem ini mulai tanah longsor, banjir, naiknya air laut, dan merebahnya
berbagai penyakit. Ketika cuaca ekstrim ini terus terjadi secara berlarut-larut
tentu akan mengakibatkan kerugian bagi masyarakat. Menurut BMKG masyarakat
dihimbau waspada akan potensi cuaca ekstrem di Indonesia selama sepekan ke depan
pada Bulan Februari 2023. Diperkirakan wilayah yang akan terkena cuaca ekstrem,
meliputi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, NTB, dan NTT.
Deputi Bidang BMKG menuturkan bahwa potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah
Indonesia dipicu adanya aktivitas Monsoon Asia yang menguat dan juga perkembangan
kondisi cuaca di Indonesia menunjukan signifikansi dinamika atmosfer yang
Eksesif. Tidak hanya itu, adanya cuaca ekstrem diindikasi dari aktifnya pola
sirkulasi angin yang terbentuk di sekitar wilayah Indonesia yang membentuk
perlambatan ataupun kecepatan angin. Sehingga menjadi hal yang wajar, jika cuaca ekstrem ini membuat banyak aktivitas
masyarakat menjadi terhambat, sebab masyarakat pada takut ketika ingin
beraktivitas di luar rumah.
|
Adanya cuaca ekstrem yang disertai angin kencang juga memberikan dampak kerugian bagi pelaku UMKM mulai dari sektor perikanan, kriya, perdagangan, dan jasa logistik. Hal ini dapat dilihat dari seruan pemilik usaha produksi genteng dan batu bata merah yang ada di Tulungangung, Jawa Timur dimana selama cuaca ekstrem terjadi membuat volume produksi batu bata ataupun genteng mengalami penurunan drastis yang dikarenakan ketika melakukan proses pengeringan memerlukan waktu yang lama yang awalnya hanya butuh 3-4 Hari, sekarang menjadi lamban sampai 1 minggu. Belum lagi proses produksi lainnya yang akan stagnasi dan slower yang akan membuat harga jual mejadi expensive. Sebagai contoh dimana awalnya harga genteng sekitar Rp 1.100 per buah menjadi 1.500 per buah tentu ini juga akan memicu perlambatan intensitas penjualan. Selain itu juga ada penjual ikan hias yang dimana mengalami krisis penjualan disebabkan karena banyaknya ikan hias yang terkena bakteri jamur yang umumnya menempel di sirip, sisik, dan juga bisa menempel di insan ikan. Tumbuhnya parasit bakteri ini dikarenakan adanya transformasi air menjadi lebih dingin yang membuat keadaaan air menjadi abnormal
Sebagai contoh lagi di sektor jasa logistik dimana juga mengeluhkan mengalami kerugian disebabkan perubahan cuaca ekstrem. Hal ini dapat dilihat dari permasalahan pengiriman barang yang menjadi tidak tepat waktu yang disebabkan adanya reschedule pengiriman, adanya pemberhentian sementara operasi pengiriman, dan keterlambatan pengiriman yang tentunya membuat eksternalitas negatif tidak hanya bagi produsen tetapi juga akan merugikan bagi pelaku usaha jasa logistik. Dari fenomena tersebut, penulis bisa menyimpulkan bahwa adanya eksistensi cuaca ekstrem yang terjadi di Indonesia mengakibatkan lumpuhnya operasional usaha sementara yang dialami oleh beberapa pelaku usaha di berbagai sektor. Untuk itu perlu resolusi yang yang mampu handling problematika tersebut agar pelaku usaha mampu mengantisipasi dari dini terhadap perubahan cuaca ekstrem yang menimpa kegiatan usahanya dengan cara memesan barang lebih awal yang dibutuhkan untuk proses produksi ataupun barang yang akan dijual, melakukan monitoring prediksi cuaca dari BMKG, dan melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk overcome permasalahan cuaca esktrem yang berimbas pada dunia usaha/bisnis.


Komentar
Posting Komentar