OPTIMIS INDONESIA KELUAR DARI BAYANGAN JURANG RESESI EKONOMI 2023
Saat
ini seluruh negara di dunia sedang mengalami keterpurukan dalam ekonomi. Hal
ini dipicu adanya berbagai sentimen negatif dan ketegangan geopolitik. Apalagi
sepanjang 3 tahun terakhir ini banyak terjadi berbagai permasalahan yang
melumpuhkan seluruh sektor ekonomi yang mengancam kesejahteraan masyarakat
mulai dari virus covid 19, perang Rusia dan Ukraina, Adanya inflasi tak
terkendali, krisis pangan dan energi, ketidakpastian pasar global. Adanya
promblematika tersebut banyak dari kalangan ekonom, akademisi, dan Bank Dunia
memprediksi akan terjadi resesi ekonomi tahun 2023 pada seluruh dunia dan tidak
terkecuali di Indonesia. Hal itu diperkuat dari adanya beberapa data
pertumbuhan ekonomi di negara-negara dunia yang telah dirilis pada Tahun 2022.
Menurut US Bureau Of Economic Analysis menunjukan pertumbuhan ekonomi AS minus 0,6
% pada kuartal II 2022 dengan angka inflasi mencapai 7,7 persen pada Oktober
2022. Kontraksi pertubuhan ekonomi tidak hanya terjadi di AS, tetapi di
berbagai negara lainnya, seperti Inggris yang dalam dua kuartal berturut-turut
mengalami penurunan yang dimana pada Kuartal I 2022 turun 0,1 %, Kuartal II
terkontraksi 0,1 % . Selain itu di Russia mengalami kontraksi ekonomi sebesar
4,4 % pada kuartal II, Paraguay juga minus 3,4 %, dan Hongkong juga turun pertumbuhan ekonomi sebesar 3,4 % dan lain sebagainya. Adanya penurunan pertumbuhan ekonomi di
berbagai negara di Dunia membuat ancaman besar pada kondisi ekonomi kedepan.
Untuk itu, wajar adanya potensi besar akan terjadi resesi ekonomi 2023, sebab
ketika adanya penurunan pertumbuhan ekonomi secara 2 atau 3 kali kuartal berturut-turut maka
ekonomi suatu negara mengalami resesi atau bisa disebut Ekonomi Gelap. Disisi
lain ketidakpastian ekonomi global mulai terjadi Tahun 2020 yang dimana berawal
dari adanya virus corona yang berasal dari Wuhan, China pada Desember 2020
hingga akhinya penyebaran Covid 19 mengkontaminasi
seluruh masyarakat dunia. Hingga masuk ke Indonesia pada 2 Maret
2020 Depok, Jawa Barat. Selama era Covid 19 menimbulkan berbagai dampak di
berbagai sektor, khususnya di sektor ekonomi, seperti ketidakstabilan sistem
keuangan, menurunnya investor, PHK, banyak perusahaan yang bangkrut, menurunnya
pertumbuhan ekonomi, meningkatnya pengangguran dan kemiskinan, lumpuhnya
seluruh operasional ekonomi dan bisnis, terganggunya impor serta ekspor dan
lain sebagainya. Dari dampak itu banyak masyarakat yang kekurangan gizi,
menurunnya kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dan itu berlanjut selama 2
tahun. Sehingga sampai awal Januari 2022. Seluruh negara Dunia mulai
berbondong-bondong untuk berupaya dengan berbagai kebijakan dan progam untuk
memulihkan ekonomi dunia, tetapi setelah adanya perang Russia Ukraina.
Pemulihan ekonomi seakan-akan gagal, sebab adanya ketegangan antar dua negara
tersebut menimbulkan banyak dampak mulai dari inflasi, krisis pangan dan energi,
serta supply chain dan itu juga berdampak pada Indonesia yang dimana Indonesia
dituntut harus bisa bertahan dari efek keterpurukan kondisi ekonomi dunia. Tapi
beruntungnya Indonesia mampu bertahan dari gempuran efek ketidakpastian
ekonomi global akibat perang Russia Ukraina dan Bahkan disinyalir di
tengah-tengah estimasi resesi dunia. Indonesia malah tumbuh berkembang dari
segi pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, juga terdapat beberapa pihak menyatakan
bahwa Indonesia tidak akan bertahan dan cenderung minus pertumbuhan ekonominya.
Pertanyaanya, apakah Indonesia akan masuk ke jurang resesi Ekonomi Dunia Tahun
2023? Kalau menurut pandangan penulis, Indonesia tidak akan masuk ke dalam
jurang resesi 2023. Penulis beropini tersebut memiliki alasan yang kuat yang
telah dianalisa dari berbagai indikator sebelumya. Menurut penulis Indonesia
tidak akan mengalami resesi ekonomi karena didasarkan pada beberapa hal, yaitu
tingkat pertumbuhan ekonomi dalam 6 kuartal terakhir tumbuh rata-rata diangka
5,3 % per tahun. Sebagai catatan Ekonomi Indonesia pada Kuartal I 2022 tumbuh
5,01 % (yoy) tetapi terkontraksi 0,95% (qtq) , Kuartal II 2022 tumbuh 5,44 %
(yoy) dan Kuartal III 2022 tumbuh 5,72 % (yoy).

Sedangkan Inflasi Indonesia secara tahunan November 2022 sebesar 5,42 % dan masih terbilang inflasi sedang lebih
terjaga dari pada Inflasi yang terjadi di negara Uni Eropa mencapai 10% , India
6,77 % dan US tercatat 7,7 %. Dari segi Cadangan Devisa pada November 2022 sebesar 134,0
miliar dolar AS tumbuh lebih baik dibandingkan pada Oktober 2022 sebesar 130, 2
Miliar dolar AS. Dilihat dari nilai Impor Indonesia November 2022 mencapai US$
18,96 Milliar turun dibandingkan Oktober 2022 sekitar 1,89 % sedangkan nilai
Ekspor Indonesia pada November 2022 mencapai US$ 24,12 Miliar atau turun 2,46 %
dibandingkan Oktober 2022. Meski demikian nilai Ekspor Indonesia Masih Plus
dibandingkan dengan nilai Impor. Selain itu dilihat dari sisi Indeks aktivitas
belanja masyarakat pada November 2022 tercatat 128,6 atau naik dibandingkan bulan
sebelumnya. Dari data yang penulis paparkan ini tentu kita bisa melihat bahwa
Indonesia masih berada di kisaran situasi ekonomi positif , sebab hampir dari
semua indikator berada dilevel hijau. Untuk itu, penulis bisa menyimpulkan
bahwa Kondisi Perekonomian Indonesia masih sedang baik-baik saja dan tentunya
tahun 2023 Indonesia tidak akan terjun dalam resesi ekonomi dunia seperti
prediksi berbagai pihak. Namun walau perekonomian Indonesia masih aman,
pemerintah harus tetap waspada dengan melakukan berbagai strategi untuk
mengantisipasi bahwa Indonesia tidak akan masuk dalam jurang resesi ekonomi
2023.
Penulis: Hendri Budi Santoso
Komentar
Posting Komentar